Disfungsional Media Dalam Isu Kenaikan BBM
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dalam masa transisi, yaitu suatu masyarakat yang sedang menuju ke masyarakat modern. Dalam proses ini masyarakat Indonesia berada dalam perubahan dari periode post-agraris menuju pra-industri. Perubahan struktur pada masyarakat tradisional merupakan akibat dari derasnya proses modernisasi dengan berbagai nilai atau teknologi yang ditawarkannya. Ciri utama yang ditampilkan modernisasi adalah semangat rasionalis dan positivistis. Proses modernisasi mencakup seluruh lapisan masyarakat luas dan lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, sebagaimana juga terjadi pada tiap-tiap individu secara pribadi yang ditulari semangat positivistis.
Unsur-unsur penting dalam modernisasi adalah kepribadian yang mobile dan derasnya penyebaran informasi, melalui teknologi mass media yang canggih. Masyarakat Barat berbeda dengan masyarakat timur (termasuk Indonesia), kebudayaan masyarakat Barat sudah biasa dengan perubahan dan mampu menyesuaikan diri kepada aneka iramanya. Mobilitas fisik yang biasa dijumpai dalam proses modernisasi akan menimbulkan mobilitas sosial, yang dengan lambat laun akan muncul lembaga-lembaga yang sesuai dengan prosesnya (M. Soelaiman, 1998 : 94)
Lembaga / institusi sosial mempunyai beberapa pengertian. Harton mengartikan institusi sosial sebagai sistem organisasi dari hubungan sosial yang terwujud dari beberapa nilai umum dan produser dan mempertemuakan beberapa kebutuhan dasar masyarakat. Kemudian Harton dan Hunt menyempurnakan pengertian lembaga yang diartikannya sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan uang oleh masyarakat dipandang penting atau, secara formal, sekumpulan kebikajaksanaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia.
Karena institusi sebagai wahana saluran aspirasi, kehendak dan sekaligus alat (instrumen) untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, maka institusi memiliki berbagai komposisi dan fungsi. Menurut Chitambar, komposisi dan fungsi institusi meliputi material tujuan budaya, prasarana, partisipasi efektif bagi anggota, pedoman bertindak dan berpikir, berfungsi merealisasikan kebutuhan dasar, mempunyai struktur seperangkat norma dari harapan dan jaringan dari peran, mempunyai fungsi manifes dan laten, mempunayai peran besar dalam pengawasan sosial dan individual, mempunyai banyak fungsi (amalgamasi), mempunayai beberapa unsur sebagai komposisi lembaga, mempunyai efek fungsi positif dan negatif, sebagai sarana untuk mengefektifkan kegiatan.
Teori Struktural Fungsionalism oleh Robert K. Merton
Robert K. Merton (1911-2003), mengembangkan teori sosial taraf menengah. Dalam pengertian Merton, teori taraf menengah adalah teori yang terletak di antara hipotesis kerja yang kecil tetapi perlu, yang berkembang semakin besar dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya untuk mengembangkan suatu teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial. Hal ini adalah responnya terhadap semangat Parsons yang hingga akhir hidupnya ingin menyelesaikan teori tunggal tentang sistem sosial (grand unified social theory).
Menurut Merton, teoretisi sosial dalam pengamatannya harus membedakan antara motif dan fungsi sosial. Motif sosial itu lebih bersifat pribadi daripada fungsi sosial itu sendiri.
Isu Tentang Akan Naiknya Harga BBM
Akhir-akhir ini, berhembus kabar dari media massa baik itu cetak maupun elektronik yang mengatakan bahwa pemerintah dalam waktu dekat ini akan menaikkan harga BBM, hal itu dilakukan untuk mengimbangi naiknya harga minyak dunia. Masyarakat Indonesia yang dalam masa transisi, yaitu suatu masyarakat yang sedang menuju ke masyarakat modern dengan mudahnya menerima isu itu tanpa ada kroscek terlebih dahulu. Masyarakat seperti itu mengalami Selective Perception, Selective Perception adalah kecenderungan manusia untuk salah tafsir dan salah tanggap pada komunikasi persuasif berkaitan dengan predisposisi mereka, dengan cara mengubah pesan ke arah yang sesuai dengan predisposisi, (Berelson dan Steiner, 1964).
Jika dikaitkan dengan teori Merton yang mengatakan bahwa ada dua fungsi sosial, yaitu fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang diketahui dan dimafhumi oleh individu-individu dalam sistem sosial tersebut, sementara fungsi laten adalah fungsi yang tak diketahui. Hal ini menjelaskan tentang terjadinya pola-pola konsekuensi disfungsional dari tindakan individu dalam masyarakat. Disfungsional maksudnya konsekuensi yang justru memperkecil kemampuan bertahannya masyarakat tersebut. Maka fungsi manifes dari penyebaran berita tentang kenaikan harga BBM adalah usaha negara (state) untuk mensosialisasikan kenaikan harga untuk mengimbangi kenaikan harga minyak dunia, sedangkan fungsi laten dari berita tersebut adalah kepanikan masyarakat dan akibatnya masyarakat memborong BBM dalam jumlah besar sehingga stok BBM di depo-depo Pertamina mengalami kekurangan suplai. Ini akan mengakibatkan ketidakstabilan harga dan persediaan BBM pun ikut menurun, para spekulan serta pedagang memborong dengan harapan dapat menjual dengan harga lebih tinggi.
Efek Lanjutan Disfungsional Media
Masyarakat Indonesia selain mudah mengalami Selective Perception juga mudah untuk mengalami Media Exposure, yaitu suatu keadaan di mana orang atau masyarakat mengalami terpaan media, masyarakat langsung percaya apa saja yang media gambarkan atau beritakan. Pada umumnya memang masyarakat dalam masa pramodern kurang memiliki sikap apatis (tidak peduli), skeptis (tidak percaya), dan kritis terhadap media. Padahal di zaman sekarang media begitu kuatnya mempengaruhi kita, ketiga sikap tersebut perlu kita miliki. Dalam pandangan Katz, mengatakan bahwa para peneliti komunikasi seharusnya tidak terlalu memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan media massa bagi masyarakat (effects) dan hendaknya lebih memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan masyarakat dengan media massanya, bahkan Katz (1959), media massa yang paling kuat sekalipun tidak dapat secara teratur mempengaruhi seorang individu yang tidak memperoleh manfaat dari media dalam lingkungan sosial dan kejiwaan dimana ia hidup (Reed H. Blake dan Edwin O. Haroldsen, 1979).
Maksud pernyataan Katz diatas mengandung pengertian bahwa selama ini media selalu memikirkan pandangannya terhadap audiensnya, padahal yang mengkhawatirkan adalah “pendewaan” masyarakat atau audiens terhadap media. Jika kita melihat disfungsi media akibat naiknya harga BBM adalah masyarakat yang tidak seberapa terpengaruh akibat berita yang mengatakan BBM akan naik dan mereka tidak ada keinginan untuk memborong akan ikut serta merta memborong BBM, hal itu diakibatkan karena mereka melihat berita di media bahwa banyak orang di berbagai daerah memborong BBM karena isu naiknya harga.
Hal tersebut di atas juga akibat adanya Disfungsi kecanduan (narcotizing dysfunction) terhadap media massa, disfungsi ini adalah akumulasi informasi (dari media massa) berkenaan dengan masalah umum, dan pengetahuan ini untuk menggantikan kegiatan sosial lainnya (Reed H. Blake dan Edwin O. Harodsen, 1979).
Teori struktural fungsionalism menggambarkan bahwa pemerintah (state) memiliki hubungan yang langsung kepada masyarakat (society) juga kepada media, begitu pula masyarakat juga memiliki hubungan langsung dengan media dan negara. Hal ini berarti jika pemerintah salah melakukan sosialisasi berita melalui media maka akan mudah menyulut gejolak dalam masyarakat seperti kasus di atas.
Daftar Pustaka
Blake, Reed H dan Edwin O. Haroldsen. 2005. Taksonomi Konsep Komunikasi. Surabaya. Papyrus.
Soelaiman, Munandar. 1998. Dinamika Masyarakat Transisi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar