Mana Corporate Social Responsibilitymu RCTI ?
Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebuah media Televisi yang dapat disebut nomor satu di Indonesia berdasarkan “lembaga rating yang tidak kredibel” (AGB Nielsen) saat ini daya jangkaunya telah hampir menguasai seluruh langit-langit Indonesia merupakan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) milik Bhakti Investama, sebuah perusahaan konglomerasi Media yang dipimpin oleh Hary Tanoesoedibyo.
RCTI saat ini tergabung dengan TPI, Global TV dan beberapa saluran media lain seperti Radio Trijaya Network, Website berita Okezone dot com, harian Sindo dll, merupakan sebuah Grup konglomerasi media yang bernama MNC (Media Nusantara Citra). MNC sendiri adalah penerus Bimantara Citra perusahaan milik Bambang Trihatmojo, yang collapse setelah Alm. Soeharto lengser sebagai Presiden. MNC sendiri saat ini merupakan salah satu Grup bisnis media terbesar di tanah air, disamping Media Group yang memiliki Metro TV dan Media Indonesia, Jawa Pos Grup yang memiliki JTV, Jawa Pos dan beberapa TV lokal serta harian di beberapa daerah, Kompas Grup yang memiliki harian Kompas, penerbitan Kompas Gramedia, beberapa harian di berbagai daerah, serta masih memiliki 50% saham di Trans7.
RCTI yang akhir-akhir ini bersaing ketat dalam hal rating dengan SCTV, memfokuskan semua mata acaranya untuk hiburan. Dalam hitung-hitungan kasar dapat dikatakan acara hiburan di RCTI menguasai hampir 80% mata acara yang ada. Acara-acara hiburan tersebut didominasi oleh sinetron-sinetron yang dapat dikatakan tidak mendidik, membodohi masyarakat, tidak bermutu, dapat menimbulkan Hyperrealitas dan Pseudorealitas dalam masyarakat artinya, sinetron-sinetron yang ditampilkan RCTI tidak sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada, seperti gaya hidup yang tinggi, yang tidak sesuai dengan realitas masyarakat kita, juga banyak menampilkan realitas-realitas semu yang jarang bahkan tidak ada dalam masyarakat kita. Misalnya dalam beberapa sinetron menampilkan seorang peran utama yang adalah orang kaya, bergaya hidup mewah, anak seorang pengusaha kaya raya, tidak pernah diceritakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan dijaman sekarang ini, sehingga mudah ditebak sinetron-sinetron seperti itu menciptakan realtas semu di masyarakat, yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan orang banyak mungkin hanya terjadi dalam kehidupan segelintir orang di negeri ini.
Sinetron-sinetron garapan sineas tanah air saat ini dapat dipandang hanya mencari rating setinggi-tingginya, mereka hanya mencari nilai public share yang dihitung oleh lembaga rating yang hanya menghitung sebuah acara dari segi kuantitas orang yang menontonnya, bukan dari segi kualitasnya. Memang harus diakui bahwa tidak hanya RCTI yang memajang sinetron-sinetron seperti itu, banyak stasiun TV lain yang juga memajang sinetron-sinetron kurang berkualitas, akan tetapi stasiun TV besar dengan neraca ekonomi yang sehat, yang acaranya didominasi oleh sinetron hanya RCTI.
Kita patut berharap lebih kepada RCTI, sebab sebagai lembaga penyiaran yang menggunakan hak publik sebagai medianya yakni frekuensi yang telah menyesaki langit-langit Indonesia, seharusnya RCTI tidak hanya memikirkan keuntungan dan mengejar rating semata, tetapi kita mengharap banyak program non-hiburan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, karena disitulah fungsi utama media.
Fungsi media yang paling utama adalah memberikan informasi (to inform), kedua untuk mendidik (to educate), baru fungsi ketiga yakni fungsi hiburan (to entertain). Dapat disimpulkan bahwa fungsi pertama dan kedua media di atas adalah untuk mencerdaskan masyarakat secara umum, sedangkan fungsi ketiga yakni sebagai media hiburan adalah hanya untuk menghilangkan kepenatan masyarakat dari kehidupan, nah lo...
Sehingga dapat dikatakan bahwa RCTI “melupakan” fungsi primer media, mereka malah mati-matian menyajiakan fungsi sekunder media yakni menghibur. Mungkin RCTI mempunyai alibi bahwa mereka telah menyajiakan fungsi primer dalam beberapa acara beritanya seperti Seputar Indonesia, Buletin Siang, Nuansa Pagi, Buletin malam, tetapi apakah kita sebagai pemilik ferkuensi dilangit Indonesia merasa cukup puas dengan alibi semacam itu?
Jika kita cermati kesemua program berita yang ditawarkan RCTI belum dapat dikatakan memenuhi harapan publik untuk menjadi manusia yang kenyang akan informasi dan nilai-nilai yang mendidik. Berita yang disajikan oleh RCTI hanya terkesan biasa-biasa saja tidak lebih dari TV lain, malah cenderung kurang memuaskan, memang ini subyektif tapi coba kita perhatikan, secara teknis pada setiap program berita Seputar Indonesia atau yang lain kita akan mendapati suara presenter dan narator berita yang sangat pelan, entah itu kesalahan presenter, narator beritanya atau audioman-nya??? Simak saja gaya suara Panda Nababan, yang dalam berbicara ”angin banyak keluar lewat mulut dari pada suara yang keluar”, aneh kan???
Tetapi harus diakui dari segi kualitas beritanya, program-program berita RCTI telah banyak mengalami perbaikan sejak Arif Suditomo eks SCTV menjadi pemimpin redaksi. Kembali ke program-program RCTI secara umum, dapat disimpulkan disini bahwa program-program berita yang disajikan RCTI kurang dapat menjadikan pemirsanya menjadi berpikir cerdas. Dibutuhkan banyak program non-berita lain yang dapat mencerdaskan masyarakat Indonesia.
Corporate Social Responsibility (CSR)
RCTI sebagai salah satu stasiun televisi terbesar di tanah air hendaknya menyadari bahwa perannya sebagai media yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, mendidik generasi penerus untuk dapat maju bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia sangat diperlukan oleh negara ini. Kita wajar jika menuntut lebih dari RCTI, mungkin selama ini RCTI mempraktekkan CSR (Corporate Social Responsibility) nya dalam bentuk sumbangan-sumbangan kepada korban bencana alam atau yang lain, tapi harusnya sebagai sebuah institusi media yang dapat berbuat lebih dari pada itu, seperti menyajikan acara-acara yang “berguna” bagi bangsa dan negara, yang dapat memberikan informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan di belahan negara lain, acara yang dapat mencerdaskan kehidupan berpolitik dan mengenalkan pendidikan politik bagi orang awam dan generasi muda Indonesia, contoh-contoh di atas dapat dianggap sebagai bentuk nyata sumbangsih RCTI sebagai institusi media untuk bertanggung jawab sosial kepada masyarakat (CSR) tidak hanya menyumbang dalam artian memberi sumbangan material saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar