Powered By Blogger

Senin, 02 Februari 2009

Internet, Konvergensi Media dan Jurnalime Online

Di zaman sekarang internet sudah begitu lazim bagi semua kalangan, namun kalau kita menilik lebih jauh, sebenarnya perkembangan internet sekarang jauh dari pemikiran penciptanya. Pada awalnya internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advance Research Project Agency Network). Program ini merupakan tindak lanjut dari proposal J.C.R Licklider dari MIT (Massachusets Institute of Technologhy) yang mengusulkan dibentuknya jaringan komputer seluruh dunia.

Tujuan awal dibangunnya proyek tersebut adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu departemen Pertahanan Amerika membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari informasi terpusat yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 3 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, dimana mereka membentuk satu jaringan terpadu tahun 1969, dan secara umum diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. ARPANET akhirnya dipecah menjadi dua yaitu “Milnet” untuk keperluan militer dan “Arpanet” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer, gabungan keduanya disebut dengan DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Pada perkembangan selanjutnya internet mengalami banyak kemajuan, seperti ditemukannya e-mail, mailing list, File transfer Protocol, Blog, search engine seperti Yahoo, Google, dan lain-lain, kesemuanya membuat manusia modern masuk ke dalam kehidupan yang serba Online dan Digital, ketiga elemen peradaban masyarakat yakni teknologi, komunikasi, serta kebudayaan mengalami konvergensi.

Teknologi yang telah terpengaruh sains dan modernisasi membuat manusia menciptakan media massa yang meliputi cetak dan elektronik. Komunikasi dalam masyarakat pun berkembang jika dulu para pemimpin dan public figure menggunakan cara-cara konvensional untuk menyampaikan gagasan dan pikirannnya melalui orare, pidato maupun publicist tetapi sekarang mereka bisa menyampaikannya melalui media online seperti website dan Blog, sebagai contoh Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono memiliki site www.presidenri.info, pengamat politik Wimar Witoelar dengan perspektif.net, mantan Presiden RI ke 4 Gusdur mempunyai www.gusdur.net, Menteri pertahanan RI Juwono Sudarsono dengan juwonosudarsono.com.

Elemen peradaban terakhir yaitu kebudayaan, determinasi alam meliputi kode sosial yang meliputi ikonografi, pranata, adat, serta etika menghasilkan opini publik yang beraneka ragam mulai dari elitis, borjuis, terbatas, private, serta ekonomi, itu semua terkonvergensi ke dalam personal, global, real time, entertain, egaliter, dan juga ekonomi.

Jika kita cermati, internet sebagai media online tidak membedakan ras atau agama, dan dalam banyak hal komunikasi antar budaya tidak lagi terlalu dibatasi oleh berbagai bias dan cap tertentu, walaupun hambatan bahasa tetap ada. Media selama ini melakukan komunikasi satu arah yang membuat umpan balik (feedback) terasa kurang sehingga banyak terjadi miss komunikasi diantara kelompok-kelompok budaya, dengan internet semua pandangan tentang semua topik tersedia, dan informasi dapat dipertukarkan secara langsung, tanpa campur tangan orang lain, karena sesungguhnya inti dari online adalah manusia bisa mempunyai saling pengertian antar sesama.

Pentingnya konvergensi media

Konvergensi media adalah sebuah keharusan. Sebab masyarakat zaman sekarang tidak lagi cukup mengonsumsi satu media untuk mendapatkan informasi. Mobilitas masyarakat menuntut sebuah layanan multimedia untuk distribusi informasi. Bahkan sebuah penelitian di luar negeri mendapatkan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi dari pagi hingga malam menunjukkan pola multimedia. Pagi sebelum ke kantor orang biasanya membaca Koran, berangkat ke kantor mendengarkan radio di mobil, browsing internet saat coffee time, mendapat breaking news saat lunch time, kembali membuka koran atau majalah saat tea time, dan menonton televisi di malam hari.

Sekarang masyarakat membutuhkan informasi yang cepat dan itu dapat difasilitasi oleh teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan terakomodasinya kebutuhan mendapat informasi secara fleksibel, anywhere, anytime, with anymeans, oleh karena itu arah perkembangan media ke depan adalah konvergensi antar media.

Dampak yang akan terjadi dari konvergensi media adalah adanya kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001)

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias pembaca tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang telah terhubung dengan internet maka dengan sekejap berita yang di inginkan akan segera tersaji. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi dalam satu media sekaligus. Hal itu disebut demasivikasi, yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara massif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.

Kalau dihubungkan dengan kasus yang terjadi di India yakni Mumbai Attack dimana warga biasa dapat ditransformasi menjadi reporter potensial oleh teknologi. Teknologi blog dan twitter telah menjadi alat untuk menginformasikan ke banyak orang tentang tragedi yang sedang terjadi di sana, artinya media bisa menjadi penyampai pesan dari personal ke banyak orang dalam waktu singkat hal itu sesuai dengan catatan McMillan (2004) dalam Taksonomi konsep komunikasi, bahwa teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi.

Kembali ke persaingan industri media, jika dulu persaingan industri media terjadi antara Koran melawan Koran, online melawan online, tapi yang harus terjadi adalah persaingan antar kelompok media, karena kita mengharapkan ke depan nanti satu kelompok media mempunyai TV, Koran, media online, radio, dan sebagainya, kesemuanya untuk menghadapi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi dari multimedia (banyak media).

Sedikit kita mengulas tentang sepak terjang Koran dan media cetak yang lain, bahwa selama ini ada kecenderungan bahwa yang menguasai panggung pasar media cetak adalah kelompok media-media besar seperti KELOMPOK KOMPAS GRAMEDIA dengan beberapa harian yakni KOMPAS, Sriwijaya Post, Surya, Tribun Jabar, Wartakota dan lain-lain, selain itu mereka juga hadir dalam pasar majalah dan tabloid seperti BOLA, Info Komputer, Motor Plus, Nova dll. Media besar yang lain adalah JAWA POS, ini memiliki harian JAWA POS yang terbit di Jawa Timur, Indo Pos yang terbit di Jakarta serta berbagai Radar yang hampir ada di setiap kota di nusantara. Kedua konglomerasi media tersebut nampaknya harus segera terbangun dari manisnya menguasai pasar media tanah air, karena banyak ramalan menyebutkan bahwa era media cetak di zaman digital ini akan suram. Bahkan Philip Meyer, penulis buku “The Vanishing Newspaper” meramalkan Koran terakhir terbit pada 2040.

Sebenarnya bayang-bayang akan masa depan yang suram media cetak ini telah ditunjukkan oleh kondisi real trend konsumsi masyarakat atas media cetak. Jika kita mengutip penelitian AC Nielsen yang menyebutkan oplah media cetak turun sementara konsumsi media digital justru naik. Rinciannya sebagai berikut, oplah Koran turun 4 persen, majalah turun 24 persen, tabloid 12 persen sementara penonton televise naik 2 persen dan pengakses internet naik 17 persen.

Hal tersebut terjadi mungkin dikarenakan karakteristik media cetak dinilai sudah tidak dapat lagi memenuhi kebuthan masyarakat yang serba cepat. Selama ini distribusi media cetak terkendala faktor geografi, sementara internet tidak mengalami kendala semacam itu. Kita dapat mengatakan bahwa ke depan masyarakat akan memasuki zaman serba digital, dimana sejak lahir mereka sudah terbiasa bersentuhan dengan teknologi, mereka akan lebih senang browsing di internet dan menonton TV dari pada membaca Koran atau buku.

Kembali ke dua grup media besar tadi, mungkin yang sudah berbenah dan siap menghadapi persaingan ke era digital adalah kompas, Kompas.com merupakan media online kedua terbesar ditanah air setelah Detik.com, bahkan baru-baru ini Kompas.com versi terbaru telah behasil mengalahkan Detik.Com dalam hal Pageviews, memang itu bukan apa-apa karena cuma dari sisi Pageviews bukan banyak pembacanya tapi setidaknya Kelompok Kompas Gramedia telah benar-benar komitmen untuk mengarungi arena digital. Berbeda dengan Kompas, Jawa pos melalui Jawapos.co.id “hanya” merupakan versi online dari versi cetak yang telah beredar ke masyarakat setiap hari, tidak ada Up Date berita sama sekali, sehingga bila terjadi sebuah berita besar hari ini kita baru akan menemukan tulisan di Jawapos.co.id ke esokan harinya.

Referensi :

Blake, Reed H dan Edwin O. Haroldsen. 2005. Taksonomi Konsep Komunikasi. Surabaya. Papyrus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar