Powered By Blogger

Senin, 02 Februari 2009

Disfungsional Media Dalam Isu Kenaikan BBM

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dalam masa transisi, yaitu suatu masyarakat yang sedang menuju ke masyarakat modern. Dalam proses ini masyarakat Indonesia berada dalam perubahan dari periode post-agraris menuju pra-industri. Perubahan struktur pada masyarakat tradisional merupakan akibat dari derasnya proses modernisasi dengan berbagai nilai atau teknologi yang ditawarkannya. Ciri utama yang ditampilkan modernisasi adalah semangat rasionalis dan positivistis. Proses modernisasi mencakup seluruh lapisan masyarakat luas dan lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, sebagaimana juga terjadi pada tiap-tiap individu secara pribadi yang ditulari semangat positivistis.

Unsur-unsur penting dalam modernisasi adalah kepribadian yang mobile dan derasnya penyebaran informasi, melalui teknologi mass media yang canggih. Masyarakat Barat berbeda dengan masyarakat timur (termasuk Indonesia), kebudayaan masyarakat Barat sudah biasa dengan perubahan dan mampu menyesuaikan diri kepada aneka iramanya. Mobilitas fisik yang biasa dijumpai dalam proses modernisasi akan menimbulkan mobilitas sosial, yang dengan lambat laun akan muncul lembaga-lembaga yang sesuai dengan prosesnya (M. Soelaiman, 1998 : 94)

Lembaga / institusi sosial mempunyai beberapa pengertian. Harton mengartikan institusi sosial sebagai sistem organisasi dari hubungan sosial yang terwujud dari beberapa nilai umum dan produser dan mempertemuakan beberapa kebutuhan dasar masyarakat. Kemudian Harton dan Hunt menyempurnakan pengertian lembaga yang diartikannya sebagai suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan uang oleh masyarakat dipandang penting atau, secara formal, sekumpulan kebikajaksanaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia.

Karena institusi sebagai wahana saluran aspirasi, kehendak dan sekaligus alat (instrumen) untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, maka institusi memiliki berbagai komposisi dan fungsi. Menurut Chitambar, komposisi dan fungsi institusi meliputi material tujuan budaya, prasarana, partisipasi efektif bagi anggota, pedoman bertindak dan berpikir, berfungsi merealisasikan kebutuhan dasar, mempunyai struktur seperangkat norma dari harapan dan jaringan dari peran, mempunyai fungsi manifes dan laten, mempunayai peran besar dalam pengawasan sosial dan individual, mempunyai banyak fungsi (amalgamasi), mempunayai beberapa unsur sebagai komposisi lembaga, mempunyai efek fungsi positif dan negatif, sebagai sarana untuk mengefektifkan kegiatan.


Teori Struktural Fungsionalism oleh Robert K. Merton

Robert K. Merton (1911-2003), mengembangkan teori sosial taraf menengah. Dalam pengertian Merton, teori taraf menengah adalah teori yang terletak di antara hipotesis kerja yang kecil tetapi perlu, yang berkembang semakin besar dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya untuk mengembangkan suatu teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial. Hal ini adalah responnya terhadap semangat Parsons yang hingga akhir hidupnya ingin menyelesaikan teori tunggal tentang sistem sosial (grand unified social theory).

Menurut Merton, teoretisi sosial dalam pengamatannya harus membedakan antara motif dan fungsi sosial. Motif sosial itu lebih bersifat pribadi daripada fungsi sosial itu sendiri.


Isu Tentang Akan Naiknya Harga BBM

Akhir-akhir ini, berhembus kabar dari media massa baik itu cetak maupun elektronik yang mengatakan bahwa pemerintah dalam waktu dekat ini akan menaikkan harga BBM, hal itu dilakukan untuk mengimbangi naiknya harga minyak dunia. Masyarakat Indonesia yang dalam masa transisi, yaitu suatu masyarakat yang sedang menuju ke masyarakat modern dengan mudahnya menerima isu itu tanpa ada kroscek terlebih dahulu. Masyarakat seperti itu mengalami Selective Perception, Selective Perception adalah kecenderungan manusia untuk salah tafsir dan salah tanggap pada komunikasi persuasif berkaitan dengan predisposisi mereka, dengan cara mengubah pesan ke arah yang sesuai dengan predisposisi, (Berelson dan Steiner, 1964).

Jika dikaitkan dengan teori Merton yang mengatakan bahwa ada dua fungsi sosial, yaitu fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang diketahui dan dimafhumi oleh individu-individu dalam sistem sosial tersebut, sementara fungsi laten adalah fungsi yang tak diketahui. Hal ini menjelaskan tentang terjadinya pola-pola konsekuensi disfungsional dari tindakan individu dalam masyarakat. Disfungsional maksudnya konsekuensi yang justru memperkecil kemampuan bertahannya masyarakat tersebut. Maka fungsi manifes dari penyebaran berita tentang kenaikan harga BBM adalah usaha negara (state) untuk mensosialisasikan kenaikan harga untuk mengimbangi kenaikan harga minyak dunia, sedangkan fungsi laten dari berita tersebut adalah kepanikan masyarakat dan akibatnya masyarakat memborong BBM dalam jumlah besar sehingga stok BBM di depo-depo Pertamina mengalami kekurangan suplai. Ini akan mengakibatkan ketidakstabilan harga dan persediaan BBM pun ikut menurun, para spekulan serta pedagang memborong dengan harapan dapat menjual dengan harga lebih tinggi.


Efek Lanjutan Disfungsional Media

Masyarakat Indonesia selain mudah mengalami Selective Perception juga mudah untuk mengalami Media Exposure, yaitu suatu keadaan di mana orang atau masyarakat mengalami terpaan media, masyarakat langsung percaya apa saja yang media gambarkan atau beritakan. Pada umumnya memang masyarakat dalam masa pramodern kurang memiliki sikap apatis (tidak peduli), skeptis (tidak percaya), dan kritis terhadap media. Padahal di zaman sekarang media begitu kuatnya mempengaruhi kita, ketiga sikap tersebut perlu kita miliki. Dalam pandangan Katz, mengatakan bahwa para peneliti komunikasi seharusnya tidak terlalu memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan media massa bagi masyarakat (effects) dan hendaknya lebih memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan masyarakat dengan media massanya, bahkan Katz (1959), media massa yang paling kuat sekalipun tidak dapat secara teratur mempengaruhi seorang individu yang tidak memperoleh manfaat dari media dalam lingkungan sosial dan kejiwaan dimana ia hidup (Reed H. Blake dan Edwin O. Haroldsen, 1979).

Maksud pernyataan Katz diatas mengandung pengertian bahwa selama ini media selalu memikirkan pandangannya terhadap audiensnya, padahal yang mengkhawatirkan adalah “pendewaan” masyarakat atau audiens terhadap media. Jika kita melihat disfungsi media akibat naiknya harga BBM adalah masyarakat yang tidak seberapa terpengaruh akibat berita yang mengatakan BBM akan naik dan mereka tidak ada keinginan untuk memborong akan ikut serta merta memborong BBM, hal itu diakibatkan karena mereka melihat berita di media bahwa banyak orang di berbagai daerah memborong BBM karena isu naiknya harga.

Hal tersebut di atas juga akibat adanya Disfungsi kecanduan (narcotizing dysfunction) terhadap media massa, disfungsi ini adalah akumulasi informasi (dari media massa) berkenaan dengan masalah umum, dan pengetahuan ini untuk menggantikan kegiatan sosial lainnya (Reed H. Blake dan Edwin O. Harodsen, 1979).

Teori struktural fungsionalism menggambarkan bahwa pemerintah (state) memiliki hubungan yang langsung kepada masyarakat (society) juga kepada media, begitu pula masyarakat juga memiliki hubungan langsung dengan media dan negara. Hal ini berarti jika pemerintah salah melakukan sosialisasi berita melalui media maka akan mudah menyulut gejolak dalam masyarakat seperti kasus di atas.


Daftar Pustaka


Blake, Reed H dan Edwin O. Haroldsen. 2005. Taksonomi Konsep Komunikasi. Surabaya. Papyrus.

Soelaiman, Munandar. 1998. Dinamika Masyarakat Transisi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Mana Corporate Social Responsibilitymu RCTI ?

Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebuah media Televisi yang dapat disebut nomor satu di Indonesia berdasarkan “lembaga rating yang tidak kredibel” (AGB Nielsen) saat ini daya jangkaunya telah hampir menguasai seluruh langit-langit Indonesia merupakan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) milik Bhakti Investama, sebuah perusahaan konglomerasi Media yang dipimpin oleh Hary Tanoesoedibyo.

RCTI saat ini tergabung dengan TPI, Global TV dan beberapa saluran media lain seperti Radio Trijaya Network, Website berita Okezone dot com, harian Sindo dll, merupakan sebuah Grup konglomerasi media yang bernama MNC (Media Nusantara Citra). MNC sendiri adalah penerus Bimantara Citra perusahaan milik Bambang Trihatmojo, yang collapse setelah Alm. Soeharto lengser sebagai Presiden. MNC sendiri saat ini merupakan salah satu Grup bisnis media terbesar di tanah air, disamping Media Group yang memiliki Metro TV dan Media Indonesia, Jawa Pos Grup yang memiliki JTV, Jawa Pos dan beberapa TV lokal serta harian di beberapa daerah, Kompas Grup yang memiliki harian Kompas, penerbitan Kompas Gramedia, beberapa harian di berbagai daerah, serta masih memiliki 50% saham di Trans7.

RCTI yang akhir-akhir ini bersaing ketat dalam hal rating dengan SCTV, memfokuskan semua mata acaranya untuk hiburan. Dalam hitung-hitungan kasar dapat dikatakan acara hiburan di RCTI menguasai hampir 80% mata acara yang ada. Acara-acara hiburan tersebut didominasi oleh sinetron-sinetron yang dapat dikatakan tidak mendidik, membodohi masyarakat, tidak bermutu, dapat menimbulkan Hyperrealitas dan Pseudorealitas dalam masyarakat artinya, sinetron-sinetron yang ditampilkan RCTI tidak sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada, seperti gaya hidup yang tinggi, yang tidak sesuai dengan realitas masyarakat kita, juga banyak menampilkan realitas-realitas semu yang jarang bahkan tidak ada dalam masyarakat kita. Misalnya dalam beberapa sinetron menampilkan seorang peran utama yang adalah orang kaya, bergaya hidup mewah, anak seorang pengusaha kaya raya, tidak pernah diceritakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan dijaman sekarang ini, sehingga mudah ditebak sinetron-sinetron seperti itu menciptakan realtas semu di masyarakat, yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan orang banyak mungkin hanya terjadi dalam kehidupan segelintir orang di negeri ini.

Sinetron-sinetron garapan sineas tanah air saat ini dapat dipandang hanya mencari rating setinggi-tingginya, mereka hanya mencari nilai public share yang dihitung oleh lembaga rating yang hanya menghitung sebuah acara dari segi kuantitas orang yang menontonnya, bukan dari segi kualitasnya. Memang harus diakui bahwa tidak hanya RCTI yang memajang sinetron-sinetron seperti itu, banyak stasiun TV lain yang juga memajang sinetron-sinetron kurang berkualitas, akan tetapi stasiun TV besar dengan neraca ekonomi yang sehat, yang acaranya didominasi oleh sinetron hanya RCTI.

Kita patut berharap lebih kepada RCTI, sebab sebagai lembaga penyiaran yang menggunakan hak publik sebagai medianya yakni frekuensi yang telah menyesaki langit-langit Indonesia, seharusnya RCTI tidak hanya memikirkan keuntungan dan mengejar rating semata, tetapi kita mengharap banyak program non-hiburan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, karena disitulah fungsi utama media.

Fungsi media yang paling utama adalah memberikan informasi (to inform), kedua untuk mendidik (to educate), baru fungsi ketiga yakni fungsi hiburan (to entertain). Dapat disimpulkan bahwa fungsi pertama dan kedua media di atas adalah untuk mencerdaskan masyarakat secara umum, sedangkan fungsi ketiga yakni sebagai media hiburan adalah hanya untuk menghilangkan kepenatan masyarakat dari kehidupan, nah lo...

Sehingga dapat dikatakan bahwa RCTI “melupakan” fungsi primer media, mereka malah mati-matian menyajiakan fungsi sekunder media yakni menghibur. Mungkin RCTI mempunyai alibi bahwa mereka telah menyajiakan fungsi primer dalam beberapa acara beritanya seperti Seputar Indonesia, Buletin Siang, Nuansa Pagi, Buletin malam, tetapi apakah kita sebagai pemilik ferkuensi dilangit Indonesia merasa cukup puas dengan alibi semacam itu?

Jika kita cermati kesemua program berita yang ditawarkan RCTI belum dapat dikatakan memenuhi harapan publik untuk menjadi manusia yang kenyang akan informasi dan nilai-nilai yang mendidik. Berita yang disajikan oleh RCTI hanya terkesan biasa-biasa saja tidak lebih dari TV lain, malah cenderung kurang memuaskan, memang ini subyektif tapi coba kita perhatikan, secara teknis pada setiap program berita Seputar Indonesia atau yang lain kita akan mendapati suara presenter dan narator berita yang sangat pelan, entah itu kesalahan presenter, narator beritanya atau audioman-nya??? Simak saja gaya suara Panda Nababan, yang dalam berbicara ”angin banyak keluar lewat mulut dari pada suara yang keluar”, aneh kan???

Tetapi harus diakui dari segi kualitas beritanya, program-program berita RCTI telah banyak mengalami perbaikan sejak Arif Suditomo eks SCTV menjadi pemimpin redaksi. Kembali ke program-program RCTI secara umum, dapat disimpulkan disini bahwa program-program berita yang disajikan RCTI kurang dapat menjadikan pemirsanya menjadi berpikir cerdas. Dibutuhkan banyak program non-berita lain yang dapat mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Corporate Social Responsibility (CSR)

RCTI sebagai salah satu stasiun televisi terbesar di tanah air hendaknya menyadari bahwa perannya sebagai media yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, mendidik generasi penerus untuk dapat maju bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia sangat diperlukan oleh negara ini. Kita wajar jika menuntut lebih dari RCTI, mungkin selama ini RCTI mempraktekkan CSR (Corporate Social Responsibility) nya dalam bentuk sumbangan-sumbangan kepada korban bencana alam atau yang lain, tapi harusnya sebagai sebuah institusi media yang dapat berbuat lebih dari pada itu, seperti menyajikan acara-acara yang “berguna” bagi bangsa dan negara, yang dapat memberikan informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan di belahan negara lain, acara yang dapat mencerdaskan kehidupan berpolitik dan mengenalkan pendidikan politik bagi orang awam dan generasi muda Indonesia, contoh-contoh di atas dapat dianggap sebagai bentuk nyata sumbangsih RCTI sebagai institusi media untuk bertanggung jawab sosial kepada masyarakat (CSR) tidak hanya menyumbang dalam artian memberi sumbangan material saja.

Internet, Konvergensi Media dan Jurnalime Online

Di zaman sekarang internet sudah begitu lazim bagi semua kalangan, namun kalau kita menilik lebih jauh, sebenarnya perkembangan internet sekarang jauh dari pemikiran penciptanya. Pada awalnya internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advance Research Project Agency Network). Program ini merupakan tindak lanjut dari proposal J.C.R Licklider dari MIT (Massachusets Institute of Technologhy) yang mengusulkan dibentuknya jaringan komputer seluruh dunia.

Tujuan awal dibangunnya proyek tersebut adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu departemen Pertahanan Amerika membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari informasi terpusat yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 3 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, dimana mereka membentuk satu jaringan terpadu tahun 1969, dan secara umum diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. ARPANET akhirnya dipecah menjadi dua yaitu “Milnet” untuk keperluan militer dan “Arpanet” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer, gabungan keduanya disebut dengan DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Pada perkembangan selanjutnya internet mengalami banyak kemajuan, seperti ditemukannya e-mail, mailing list, File transfer Protocol, Blog, search engine seperti Yahoo, Google, dan lain-lain, kesemuanya membuat manusia modern masuk ke dalam kehidupan yang serba Online dan Digital, ketiga elemen peradaban masyarakat yakni teknologi, komunikasi, serta kebudayaan mengalami konvergensi.

Teknologi yang telah terpengaruh sains dan modernisasi membuat manusia menciptakan media massa yang meliputi cetak dan elektronik. Komunikasi dalam masyarakat pun berkembang jika dulu para pemimpin dan public figure menggunakan cara-cara konvensional untuk menyampaikan gagasan dan pikirannnya melalui orare, pidato maupun publicist tetapi sekarang mereka bisa menyampaikannya melalui media online seperti website dan Blog, sebagai contoh Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono memiliki site www.presidenri.info, pengamat politik Wimar Witoelar dengan perspektif.net, mantan Presiden RI ke 4 Gusdur mempunyai www.gusdur.net, Menteri pertahanan RI Juwono Sudarsono dengan juwonosudarsono.com.

Elemen peradaban terakhir yaitu kebudayaan, determinasi alam meliputi kode sosial yang meliputi ikonografi, pranata, adat, serta etika menghasilkan opini publik yang beraneka ragam mulai dari elitis, borjuis, terbatas, private, serta ekonomi, itu semua terkonvergensi ke dalam personal, global, real time, entertain, egaliter, dan juga ekonomi.

Jika kita cermati, internet sebagai media online tidak membedakan ras atau agama, dan dalam banyak hal komunikasi antar budaya tidak lagi terlalu dibatasi oleh berbagai bias dan cap tertentu, walaupun hambatan bahasa tetap ada. Media selama ini melakukan komunikasi satu arah yang membuat umpan balik (feedback) terasa kurang sehingga banyak terjadi miss komunikasi diantara kelompok-kelompok budaya, dengan internet semua pandangan tentang semua topik tersedia, dan informasi dapat dipertukarkan secara langsung, tanpa campur tangan orang lain, karena sesungguhnya inti dari online adalah manusia bisa mempunyai saling pengertian antar sesama.

Pentingnya konvergensi media

Konvergensi media adalah sebuah keharusan. Sebab masyarakat zaman sekarang tidak lagi cukup mengonsumsi satu media untuk mendapatkan informasi. Mobilitas masyarakat menuntut sebuah layanan multimedia untuk distribusi informasi. Bahkan sebuah penelitian di luar negeri mendapatkan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi dari pagi hingga malam menunjukkan pola multimedia. Pagi sebelum ke kantor orang biasanya membaca Koran, berangkat ke kantor mendengarkan radio di mobil, browsing internet saat coffee time, mendapat breaking news saat lunch time, kembali membuka koran atau majalah saat tea time, dan menonton televisi di malam hari.

Sekarang masyarakat membutuhkan informasi yang cepat dan itu dapat difasilitasi oleh teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan terakomodasinya kebutuhan mendapat informasi secara fleksibel, anywhere, anytime, with anymeans, oleh karena itu arah perkembangan media ke depan adalah konvergensi antar media.

Dampak yang akan terjadi dari konvergensi media adalah adanya kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001)

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias pembaca tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang telah terhubung dengan internet maka dengan sekejap berita yang di inginkan akan segera tersaji. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi dalam satu media sekaligus. Hal itu disebut demasivikasi, yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara massif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.

Kalau dihubungkan dengan kasus yang terjadi di India yakni Mumbai Attack dimana warga biasa dapat ditransformasi menjadi reporter potensial oleh teknologi. Teknologi blog dan twitter telah menjadi alat untuk menginformasikan ke banyak orang tentang tragedi yang sedang terjadi di sana, artinya media bisa menjadi penyampai pesan dari personal ke banyak orang dalam waktu singkat hal itu sesuai dengan catatan McMillan (2004) dalam Taksonomi konsep komunikasi, bahwa teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi.

Kembali ke persaingan industri media, jika dulu persaingan industri media terjadi antara Koran melawan Koran, online melawan online, tapi yang harus terjadi adalah persaingan antar kelompok media, karena kita mengharapkan ke depan nanti satu kelompok media mempunyai TV, Koran, media online, radio, dan sebagainya, kesemuanya untuk menghadapi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi dari multimedia (banyak media).

Sedikit kita mengulas tentang sepak terjang Koran dan media cetak yang lain, bahwa selama ini ada kecenderungan bahwa yang menguasai panggung pasar media cetak adalah kelompok media-media besar seperti KELOMPOK KOMPAS GRAMEDIA dengan beberapa harian yakni KOMPAS, Sriwijaya Post, Surya, Tribun Jabar, Wartakota dan lain-lain, selain itu mereka juga hadir dalam pasar majalah dan tabloid seperti BOLA, Info Komputer, Motor Plus, Nova dll. Media besar yang lain adalah JAWA POS, ini memiliki harian JAWA POS yang terbit di Jawa Timur, Indo Pos yang terbit di Jakarta serta berbagai Radar yang hampir ada di setiap kota di nusantara. Kedua konglomerasi media tersebut nampaknya harus segera terbangun dari manisnya menguasai pasar media tanah air, karena banyak ramalan menyebutkan bahwa era media cetak di zaman digital ini akan suram. Bahkan Philip Meyer, penulis buku “The Vanishing Newspaper” meramalkan Koran terakhir terbit pada 2040.

Sebenarnya bayang-bayang akan masa depan yang suram media cetak ini telah ditunjukkan oleh kondisi real trend konsumsi masyarakat atas media cetak. Jika kita mengutip penelitian AC Nielsen yang menyebutkan oplah media cetak turun sementara konsumsi media digital justru naik. Rinciannya sebagai berikut, oplah Koran turun 4 persen, majalah turun 24 persen, tabloid 12 persen sementara penonton televise naik 2 persen dan pengakses internet naik 17 persen.

Hal tersebut terjadi mungkin dikarenakan karakteristik media cetak dinilai sudah tidak dapat lagi memenuhi kebuthan masyarakat yang serba cepat. Selama ini distribusi media cetak terkendala faktor geografi, sementara internet tidak mengalami kendala semacam itu. Kita dapat mengatakan bahwa ke depan masyarakat akan memasuki zaman serba digital, dimana sejak lahir mereka sudah terbiasa bersentuhan dengan teknologi, mereka akan lebih senang browsing di internet dan menonton TV dari pada membaca Koran atau buku.

Kembali ke dua grup media besar tadi, mungkin yang sudah berbenah dan siap menghadapi persaingan ke era digital adalah kompas, Kompas.com merupakan media online kedua terbesar ditanah air setelah Detik.com, bahkan baru-baru ini Kompas.com versi terbaru telah behasil mengalahkan Detik.Com dalam hal Pageviews, memang itu bukan apa-apa karena cuma dari sisi Pageviews bukan banyak pembacanya tapi setidaknya Kelompok Kompas Gramedia telah benar-benar komitmen untuk mengarungi arena digital. Berbeda dengan Kompas, Jawa pos melalui Jawapos.co.id “hanya” merupakan versi online dari versi cetak yang telah beredar ke masyarakat setiap hari, tidak ada Up Date berita sama sekali, sehingga bila terjadi sebuah berita besar hari ini kita baru akan menemukan tulisan di Jawapos.co.id ke esokan harinya.

Referensi :

Blake, Reed H dan Edwin O. Haroldsen. 2005. Taksonomi Konsep Komunikasi. Surabaya. Papyrus.